SLEMAN—Pemasukan yang hanya bersumber pada penjualan tiket pertandingan ditengarai menjadi penyebab sulitnya manajemen PSS Sleman dalam menggaji pemain. Di sisi lain, PT Putra Sleman Sembada (PSS), perusahaan pengelola klub, sulit mencari sponsor karena mereka hanya berlaga di Divisi Utama.
Salah satu Direksi PT PSS Supardjiyono mengatakan selama ini gaji pemain sangat tergantung pada penjualan tiket. Sebagai contoh pada Juni kemarin, gaji Anang Hadi cs sempat tertunda hingga sepekan lamanya karena Divisi Utama diliburkan sehingga klub tidak ada pemasukan.
Selama libur itu, PSS memang mengagendakan laga uji coba melawan sejumlah klub mentereng seperti Persebaya Surabaya dan PSIS Semarang. Namun, laga itu tidak bisa terlaksana karena tidak mengantongi izin dari kepolisian karena alasan keamanan. Praktis, selama Juni, klub berjuluk Super Elang Jawa itu tidak mendapatkan pemasukan sama sekali. Gaji pemain akhirnya dapat diselesaikan setelah para anggota komisaris berpatungan satu sama lain.
Klub bukan tanpa usaha mencari pemasukan lain, salah satunya dengan mencari sponsor. “Kami sangat sulit mencari pemasukan lain dari sponsor karena cuma bermain di Divisi Utama,” kata Supardjiyono beberapa waktu lalu.
Sejauh ini, sponsor PSS hanya UD Muncul yang notabene adalah perusahaan milik Sukeno, Direktur Utama PT PSS. “Bagaimana spon­sor mau mendekat? Siaran langsung di televisi tidak pernah ada,” terang pria yang pada musim lalu menjabat sebagai Manajer PSS itu.
Dia optimistis PSS akan lebih mudah menarik minat sponsor ketika sudah promosi ke Indonesia Super League (ISL).
Manajer PSS, Sukoco, mengatakan pihaknya menyerahkan masalah sponsor ke pengurus PT PSS. Menurutnya sumber daya klub dalam menggaet sponsor masih kurang maksimal. (Kurniyanto/JIBI)

#Koran-o
 
Top